G
N
I
D
A
O
L

Pimpinan Program Studi

Dr. La Suha Ishabu, M.Si

NIP. 197608272008011010

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Puji syukur di panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, kita dapat bersama-sama dalam kesempatan berharga ini untuk mengawali langkah baru dalam mengembangkan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Program Studi Diluar Kampus Utama Universitas Pattimura di Kabupaten Kepulauan Aru

Program Studi PGSD memiliki visi keilmuan “Mengkaji dan Mengembangkan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Konstruktivisme dan Teori Ekologi Sistem untuk Menghasilkan Lulusan Unggul, Berdaya Saing Global, dan Berkarakter Laut Pulau.” Visi ini menegaskan komitmen kita untuk melahirkan pendidik yang tidak hanya berpengetahuan luas, tetapi juga mampu membangun proses pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan berpihak pada kebutuhan peserta didik serta lingkungan sosial-budayanya.

Pendidikan hari ini tidak bisa dilepaskan dari arus globalisasi dan transformasi digital. Di tingkat nasional, Indonesia sedang berupaya memperkuat kualitas SDM melalui kurikulum yang adaptif, sementara di tingkat global, kita menyaksikan bagaimana kompetensi abad 21 yaitu kolaborasi, kreativitas, berpikir kritis, dan komunikasi menjadi kunci keberhasilan dalam dunia pendidikan.

Namun demikian, kita juga menghadapi tantangan yang kompleks: kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah, terbatasnya akses pendidikan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), rendahnya literasi dan numerasi, serta masih terbatasnya guru yang siap menghadapi era digital. Secara global, isu serupa muncul dalam wujud equity in education, transformasi teknologi, serta krisis karakter yang semakin nyata dalam kehidupan masyarakat.

Dalam konteks Kepulauan Aru dan wilayah laut-pulau lainnya, kita sesungguhnya memiliki keunggulan. Masyarakat kepulauan terbentuk dalam kultur maritim yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal, solidaritas sosial, serta kedekatan dengan alam. Semua ini dapat menjadi sumber pembelajaran kontekstual yang memperkuat karakter peserta didik sekaligus membangun daya saing lulusan yang unik dan beridentitas.

Tantangan pendidikan di abad 21 tidak kecil: keterbatasan infrastruktur, ketertinggalan literasi digital, dan perubahan sosial-budaya yang cepat. Namun, justru di balik tantangan itu terdapat peluang besar. Dengan teknologi digital, pembelajaran bisa menembus batas geografis. Dengan pendekatan ekologi sistem, pendidikan bisa membangun keterkaitan erat antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Dan dengan semangat konstruktivisme, mahasiswa kita bisa membangun sendiri pengetahuan berdasarkan pengalaman belajar yang autentik.